554 Mahasiswa PKLT Poltekkes Kemenkes Manado Rampungkan Pengabdian Di Minahasa

 

Senin, 2 Maret 2026, menjadi penanda akhir perjalanan itu. Praktik Kerja Lapangan Terpadu (PKLT) Poltekkes Kemenkes Manado Tahun 2026 resmi ditutup, mengakhiri rangkaian pengabdian yang telah berjalan sejak 10 Februari 2026. Hampir tiga minggu mereka hidup lebih dekat dengan masyarakat—bukan sebagai tamu, tapi sebagai bagian dari aktivitas harian desa.

Pagi itu, Lapangan Kantor Pemerintahan Kabupaten Minahasa sudah mulai ramai sebelum acara dimulai. Barisan mahasiswa mengenakan atribut kampus, sebagian masih saling bertukar cerita—tentang rumah warga yang mereka tinggali, posyandu yang mereka dampingi, sampai kebiasaan baru yang mereka pelajari selama tinggal di desa. Di wajah mereka tampak lega sekaligus berat: lega karena tugas tuntas, berat karena momen pamit selalu punya rasa sendiri.

Selama pelaksanaan, sebanyak 554 mahasiswa ditempatkan di sembilan kecamatan yang mencakup 50 desa di Kabupaten Minahasa. Mereka tidak hanya membawa program kesehatan, tetapi juga membawa energi muda yang menyatu dengan rutinitas warga: mendampingi edukasi kesehatan, ikut bergerak dalam kegiatan masyarakat, dan belajar memahami situasi nyata pelayanan kesehatan di tingkat desa.

Di tengah suasana penutupan, laporan panitia menjadi pengingat bahwa perjalanan mereka bukan sekadar pengalaman pribadi, tetapi juga rangkaian kegiatan yang terukur. Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Poltekkes Kemenkes Manado, Rolly H.S. Rondonuwu, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB, menyampaikan bahwa pelaksanaan PKLT berlangsung sesuai rencana dan didukung masyarakat setempat.

“Kegiatan PKLT tahun ini berjalan aman dan terkendali. Mahasiswa mampu beradaptasi dengan lingkungan masyarakat serta melaksanakan program pengabdian kesehatan sesuai tujuan pembelajaran,” ujarnya. Bagi panitia, adaptasi itu penting: karena kerja kesehatan di lapangan selalu bertemu dengan kebiasaan, kondisi, dan kebutuhan warga yang tak bisa ditebak dari teori semata.

Di sisi lain, bagi mahasiswa, tinggal di desa adalah pelajaran yang sering kali muncul dari hal-hal sederhana—cara berkomunikasi, cara mendengar, dan cara menghargai ritme hidup masyarakat. Hal inilah yang kemudian ditegaskan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Poltekkes Kemenkes Manado, Sandra G.J. Tombokan, S.SiT., S.Pd., M.Kes. Ia menekankan bahwa PKLT merupakan bagian penting dari pendidikan vokasi kesehatan: mempertemukan ilmu kampus dengan realitas lapangan.

“Melalui PKLT, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di kampus, tetapi juga belajar memahami kondisi nyata masyarakat serta tantangan pelayanan kesehatan di lapangan,” kata Tombokan. Menurutnya, interaksi langsung menjadi ruang belajar yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh pembelajaran di kelas. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Minahasa dan masyarakat yang telah menerima mahasiswa selama kegiatan berlangsung.

Apresiasi serupa disampaikan dari pihak pemerintah daerah. Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundayang, SS, menyebut kehadiran mahasiswa memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam edukasi dan pelayanan kesehatan di desa-desa. Ia menilai kolaborasi semacam ini menjadi bentuk sinergi yang memperkuat pembangunan kesehatan berbasis masyarakat.

Di akhir acara, suasana kembali menghangat. Ada yang sibuk berfoto, ada yang saling menepuk bahu, ada pula yang menatap lapangan seolah menahan agar momen tidak cepat selesai. Penutupan PKLT ditandai dengan laporan kegiatan, sambutan pimpinan institusi dan pemerintah daerah, serta kehadiran seluruh peserta sebagai refleksi akhir program.

Rangkaian PKLT boleh berakhir di tanggal 2 Maret, tetapi cerita yang dibawa pulang tidak berhenti di sana. Dari Minahasa, mahasiswa Poltekkes Kemenkes Manado membawa sesuatu yang lebih dari sekadar catatan kegiatan: pengalaman lapangan yang membentuk cara mereka melihat masyarakat, memahami tantangan pelayanan kesehatan, dan meneguhkan komitmen untuk melayani—di mana pun kelak mereka ditempatkan.